Jumat, 01 Juni 2012

Hidup itu Pilihan untuk Hidup

Halo Dear,

Aku masih batuk-batuk nih, ya batuk yang tak kunjung sembuh. Udah minum obat, udah periksa ke dokter tapi masih aja nih penyakit nangkring terus bikin hidup yang udah berat jadi makin kerasa berat. Gimana nggak berat, segala aktivitasku sebagai pengangguran jadi terganggu karena sedikit-sedikit aku harus batuk..uhuk-uhuk-uhuk-uhuk-hoeeek *masuk angin* pokoknya sakit itu bener-bener nggak enak, niat pengen dimanja tapi mama di Malang, papa kerja dan pulang malam, pacar? LDR mbak mas, cuma bisa dapat penghiburan lewat telepon itu juga selama bonus bicara masih ada. Jadi, sifat jelek manusia adalah ketika kesusahan menerpa dan nggak tau harus berbuat apa lagi maka paling mujarab dan cepat adalah di dalam kamar dan meratapi nasib plus curhat sepanjang waktu sama sang empuNya dunia. Aku sadar banget emang ketika aku dapat berkat yang begitu melimpah aku sering lupa mengucap syukur padahal ya semua itu juga berasal dari Tuhan, baru deh kalo susah gini langsung berubah jadi manusia yang lemah dan berserah penuh pada Tuhan. #bertobat

Nah, kondisi kayak gini bikin aku nyadar aja, mulai flashback apa penyebab sampai aku terjangkit batuk. Dan ternyata setelah aku urutkan prosesnya sampai batuk parah gini ya semua berawal dari aku yang emang nggak jaga kesehatan, jajan sembarangan semacam gorengan, minum es terus menerus dan kurang istirahat. Aku udah memilih sendiri untuk sakit dan resiko yang aku dapat ya batuk yang makin parah. Apa yang kamu tabur itu yang kamu tuai *hukum alam*. Ngomong-ngomong tentang pilihan, aku punya prinsip bahwa hidup itu adalah pilihan. Kenapa bisa begitu? Ya, karena setiap hal yang aku ambil dan putuskan untuk menjalani itu semua karena pilihan ku sendiri. Oke, mungkin pilihan-pilihan itu cuma hal kecil tapi buatku cukup lah menentukan arah dan langkah hidup saat itu. Dan semua pilihan yang aku ambil tentu selalu ada resikonya, itu yang bisa dijadikan pengalaman supaya aku makin bijak dan dewasa dalam menentukan sikap.


Selama aku kuliah ada satu pengalaman yang nggak bakal aku lupakan, kejadian yang bener-bener menghadapkan aku pada satu pilihan. Ceritanya gini, waktu itu semester 5 dan menjelang libur semester semua mahasiswa yang bakal "naik kelas" ke semester 6 diwajibkan untuk menjalani Praktek Kerja Magang (PKM) selama sebulan yang dengan kata lain jatah libur semesteran hilang. PKM harus dilakukan di perusahaan swasta atau pemerintahan dan bisa dilakukan secara individu atau berkelompok. Berhubung aku kuliah ambil studi ilmu Komunikasi dan konsentrasi public relations (PR) pastinya impianku untuk magang di salah satu perusahaan besar terus terbayang-bayang. Nah, untuk PKM sendiri aku lebih memilih untuk berkelompok bareng dua temenku, sebut aja Mona dan Lisa. So, kami bertiga berekspektasi untuk bisa PKM di salah satu media broadcasting alias TV swasta ternama ibu kota. Segala usaha dikerahkan, nyari contact person, ngelobi, kirim proposal dan menunggu hasil apakah kami bertiga diterima atau nggak untuk magang disana. Tapi, tiba-tiba mama ku mengeluarkan statement kalau beliau nggak setuju aku harus magang sejauh itu sampai Jakarta. Aku tetep nekat, aku tetep keukeh gimanapun aku pengen PKM disana. Sampai akhirnya hari penentuan itu tiba, ya aku, Mona dan Lisa dapat kabar baik dari TV itu. AKhirnya berhasil juga bisa magang disana, itu bikin aku super bahagia tapi ternyata kebahagiaan itu nggak bertahan lama karena pihak TV cuma bisa nerima dua orang aja,itu udah kuota maksimal yang bisa diberikan. *jedeeeeer langit langsung mendung* kelabu dan suram rasanya.


Bisa dibayangkan, ada pertempuran ego saat itu, kami bertiga nggak ada yang mau ngalah dan berkorban untuk keluar dari kelompok. Oke, kalo diliat dari perjuangan kami sama2 berjuang supaya bisa diterima disana tapi lagi-lagi deh namanya manusia selalu muncul rasa "paling" segalanya, misalnya aku ngerasa paling sering ngehubungi dan ngelobi, terus si Mona ngerasa paling berkorban karena untuk ngeprint dan bikin proposal semua dari dia, dan si Lisa ngerasa paling keluar duit banyak untuk biaya kirim proposal pakai jasa pengiriman barang. Dan, nggak tahu kenapa aku mikir aja kalo terus2an egois bisa2 kami batal magang dan kelompok ini bakal bubar jalan gitu aja, sedangkan sisa sebulan aja untuk ngurus semua ijin dan dan lokasi PKM. Dengan berjiwa besar, akhirnya aku yang mengalah karena menurutku siapapun nanti yang ngalah bakal tetep kesusahan untuk nyari perusahaan yang mau nerima mahasiswa magang, semua start dari awal dan parahnya bakal ngejalani ini sendirian. Aku ngalah dan memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk nyari perusahaan lain. Jangan tanya Mona Lisa deh mereka berdua terlalu sibuk menyiapkan segala keperluan mereka ke Jakarta. Anehnya, pas mamaku tahu aku batal ke Jakarta karena aku ngalah dan milih out dari kelompok mama jadi marah2 dan bilang kalo pilihanku salah, gimana nggak bingung salah satu pertimbanganku ngalah juga karena aku tahu mama nggak setuju aku ke Jakarta dan sekarang mama malah berbalik ngasih izin saat aku udah milih nggak ke Jakarta. Nasi udah jadi tom yam, dengan sisa waktu sebulan aku harus putar otak cari koneksi sana sini perusahaan mana aja yang bisa nerima mahasiswa magang. Mona Lisa udah terbang ke Jakarta dan satupun dari mereka nggak ada yang ngehubungi aku, kalau boleh mikir jelek mereka nggak bakal bisa kesana tanpa aku yang berkorban, see? aku yang paling banyak berkorban *emosi kala itu*. 


Puji Tuhan, dosenku ngasih referensi kalau ada radio di Malang yang masih bisa nerima mahasiswa magang biarpun udah mepet gini keadaannya, finally, aku akhirnya magang juga di radio itu, radio MAS FM namanya unyu-unyu bukan? sampai sekarang belum nemu sih ada radio dengan nama MBAK FM. Pilihanku magang di MAS ternyata benar, biarpun MAS cuma radio lokal di Malang aku dapat pengalaman yang berharga, misalnya aku bisa ngerasain jadi wartawan sehari pas ngeliput laga PERSEMA di stadion Gajayana, aku pakai ID Card PERS wah rasanya seneng banget secara aku bisa ketemu Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan dari dekat, hati ke hati. Aku dapat kesempatan juga liputan program kuliner dan dapat makan gratis dari resto-resto yang aku liput. Satu lagi, aku dapat kesempatan ketemu sama motivator Indonesia bukan Mario Teguh, bukan Bong Candra, bukan Merry Riana tapi Tung Desem Waringin. Dan tentunya kesempatan bekerja bareng sama orang-orang hebat di MAS yang ngasih banyak ilmu ke aku secara cuma-cuma. Pilihanku untuk nggak ke Jakarta udah tepat, karena kabar yang aku dengar Mona Lisa malah nggak solid, saling backstab satu sama lain, selamat datang di neraka deh. Oke, aku emang nggak bisa magang disana tapi suatu saat aku pasti bisa kerja disana. Amin.
foto bareng Tung Desem Waringin,tinggi banget ya

Kim Kurniawan, wajahku kucel banget


Lain lagi soal pilihan yang aku ambil diurusan asmara, ya dong urusan asmara itu selalu jadi topik utama di masa muda (Maaf kalo terkesan curhat dibagian ini, bisa langsung di skip tapi tetep komen ya,hehe). Ada keputusan besar dan aku rasa sangat benar karena seharusnya udah dari dulu aku milih ini. Aku bakal ngomongin soal mantan yang selama 3,5 tahun jadi someone special. Hubungan kami berakhir karena emang nggak bisa lagi diterusin, karena kami sama2 egois, keras kepala dan nggak mau ngalah. Aku yang milih buat break up dan ternyata setelah aku berikrar single ke seluruh penjuru dunia mantan balik lagi dan minta HTS-an, silly? Aneh kan? dia nggak bisa ngelepasin aku, dan hal bodoh yang aku lakukan saat itu adalah meng-iya-kan permintaannya, lumayan lama aku ngejalani hubungan yang nggak jelas ini. Temen2 udah pada nilai aku bodoh mau aja diposisi kayak gitu, beberapa kali aku berusaha ngebuka hati buat orang lain tapi tetep nggak bisa. Sampai ada kejadian yang bikin aku bener2 mikir pakai otak karena selama ini aku lebih ngandalin perasaan. mantan sih mikirnya, aku cinta mati ama dia jadi sesakitnya aku seseringnya dia bikin aku patah hati aku tetep nerima dia. Aku patahkan semua itu, aku mulai berpikir normal dan sadar kalau selama ini aku bener-bener bodoh menyiksa diriku dihubungan yang udah nggak sehat. I left him *sambil nyanyi Breakaway*


Jadi, aku mulai menikmati masa2 single happy ku lumayan lah, sampai tiba2 ada seseorang hadir yang mulai bikin aku sering senyum2 sendiri, seseorang yang kocak, seseorang yang pernah ngasih aku coklat 4 tahun lalu, seseorang yang sedang mengejar gelar sarjana di tanah Sunda, seseorang itu adalah seniorku saat SD. Intinya adalah, dia berhasil mengisi hari-hariku yang lagi berusaha move on . Sampai pada akhirnya kami berdua memutuskan untuk berkomitmen lebih serius. Yes, we're fall in love. Pilihan untuk pacaran sama dia bukan tanpa kendala karena saat ini diawal hubungan kami yang harusnya ketemu tiap hari,jalan bareng atau mandiin kebo bareng selayaknya pacaran normal nggak bisa terwujud karena kami terpisah jarak, aku di Sidoarjo dan pacar di Bandung. Pilihan kami untuk LDR nggak segampang itu dijalani, tapi kami percaya ini hanya diawal saja, biar Tuhan yang ngatur semua itu. kalau kata Bang Alitt sih everything happens for a reason jadi aku berpikir semua ada alasannya, apapun itu pasti yang terbaik buat kami berdua. Kalau nanti dia pulang aku udah ngerencanain banyak hal mulai dari makan ice cream bareng, photobox, makan kupang lontong, nonton, ke gereja bareng, dan pengen banget liat lumpur panas karena kami berdua sama sekali belum pernah liat tanggul lumpur yang sekarang berubah jadi tempat wisata, #miris.


"Sekecil apapun pilihan yang kita ambil dalam hidup, pasti akan memberikan pelajaran yang berharga untuk kita. Jadi, berpikirlah dengan bijak sebelum memilih. Karena Hidup itu Pilihan untuk Hidup"



Terima kasih udah membaca sampai akhir,

DEE

19 komentar:

  1. Ini postingan terpanjang yang aku baca hari ini hehe. Penuh warna, Kakak banyak pengalamannya yah. Setujuuu deh sama kalimat ini "Sekecil apapun pilihan yang kita ambil dalam hidup, pasti akan memberikan pelajaran yang berharga untuk kita. Jadi, berpikirlah dengan bijak sebelum memilih. Karena Hidup itu Pilihan untuk Hidup"

    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini adalah postingan terpanjang yang pernah aku tulis cantik, pengalaman masih sedikit kok tapi cukuplah kalo utk belajar memaknai setiap pilihan yang diambil dlm hidup.

      :)

      Hapus
  2. hidup LDR :)
    aku juga mengalami hal yang sama, pacarku di surabaya aku dimanado. huaaa... berasa mau seteres kalo kebelet pengen ketemu tapi jauh...

    BUT, yg namanya hidup ngk gampang. kalo pengen kedepannya lebih baik harus dimatangin dari skg biar kdpan lebih baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha, banyak juga yang LDR kirain cuma aku

      Ai,main2 ke surabaya nah ntr ketemuan

      Hapus
    2. hahaha..makanya kita udah bisa lo dicalonin jadi duta LDR deb :D

      iaa.. kalo aku jadi ksana taon ini pasti diajak qt ketemuannya ya :)

      Hapus
  3. Tuhan emang selalu memberikan yang terbaik untuk kita, itu semua tergantung dari cara kita bersyukur :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya..dan nggak boleh lupa utk bersyukur setiap hari

      Hapus
  4. wah anak komunikasi juga?? haha seru abis udah magang magang gitu, gue jadi gak sabar :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat menikmati masa2 perkuliahan ya :)

      Hapus
  5. Kalau batuk jangan di biarin deb =) kalau udah ngomongin LDR no coment ah, kita sama hehe..

    Apapun pilihanya kalau memang di pilih lewat hati insya allah ada jalan kemudahan..

    setuju deh sama kamu =)

    BalasHapus
  6. kita sama kok,,kamu tidak sendiri hehhehhe :)
    apapun pilihannya,,semoga itu yg terbaik :)
    cayooooooooooo :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama yang mananya Ca Ya??
      LDR nya?
      hahahaha..

      Hapus
  7. "Sekecil apapun pilihan yang kita ambil dalam hidup, pasti akan memberikan pelajaran yang berharga untuk kita. Jadi, berpikirlah dengan bijak sebelum memilih. Karena Hidup itu Pilihan untuk Hidup"

    aku suka kata2 ini.. :-)

    BalasHapus
  8. pengalaman dicerita pertamamu soal magang hampir sama dee..tapi bukan tentang magangnya, tentang hal yang jauh lebih baik diberikan Tuhan untuk kita disaat kita benar-benar mampu berlapang dada dan menjalaninya dengan ikhlas. Karena Tuhan memang selalu tau yang terbaik untuk kita. :)

    soal LDR, semoga itu menjadi pilihanmu yang terakhir dan aku doain moga lanjut ketahap++, :P
    udah pada tamat kul juga kan ;) #aminn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya memang harus kuat sih kalo udah ngejalani pilihan yang diambil :)

      LDR, hahaha lagi sering ngebahas ini, harap maklum ya

      Hapus
  9. artikel yang sangat berbobot nih,,, signifikan dan sangat konkrit,,,, salam kenal aja dan semoga artikelnya bermanfaat,,,

    BalasHapus
  10. memang hidup harus memilih,,dan saat yang susah adalah ketika tidak bisa memilih da antara pilihan yang ada

    BalasHapus
  11. berawal dari batuk tapi kemudian berakhir dengan bahagia, bersakit sakit dahulu bersenang kemudian,, alhamdulilah ^_^ lam kenal de intan ^_^...saya setuju dengan pendapat de intan yang "Berpikirlah dengan bijak sebelum memilih. Karena Hidup itu Pilihan untuk Hidup"...motivasi dan inspirasi buat saya ^_^

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan sertakan komentarmu disini Dear. :)