Tampilkan postingan dengan label flashfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flashfiction. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2015

Himalaya

Coba khayalkan sejenak 
sepuluh tahun nanti hidupmu
coba bayangkan sejenak misalkan
ada aku yang menemani 
hari demi hari yang tak terhitung
misalkan itu aku yang terakhir umtukmu

---------------------------------------
untuk itu kan ku persembahkan
Himalaya

(Himalaya - Maliq n D'essentials)


Rabu, 08 Juli 2015

Mati

Dia sendiri
Berdiri mematung di sudut ruangan
Nafas yang terengah-engah
Jantung yang berdebar kencang
Laksana tabuhan suara gendang

Dia terpaku
Namun matanya mengawasi sekitar
Diam, hening, sepi
Tapi ancaman bisa datang dari segala penjuru

Tangannya menggenggam sebilah kayu
Senjata satu-satunya yang dimiliki
Harapan untuk selamat
Erat sekali genggamannya, mungkin dalam hati kayu itu merintih kesakitan

Sekelibat bayangan tertangkap matanya
Dia di sudut ruangan
Merapal doa dalam hati
Mengharapkan bantuan dari Sang Ilahi

Nyawa yang jadi taruhannya
Bayangan hitam itu mengetahui keberadaannya
Pintu ruangan terbuka
Semilir angin langsung memenuhi ruangan yang pengap ini

Dia, sendirian
Dia, ketakutan
Dia, tak ada yang menyelamatkan

Suara langkah kaki
semakin mendekati sudut ruangan itu
Dia, tak berkutik
Dia, terjebak

Tangan dengan jemari yang besar tak elok dipandang
Menyentuh bahunya
Dipaksanya dia untuk menoleh
Dia hanya bisa pasrah

Sebuah benda tajam terasa mengoyak punggungnya
Berkali-kali
Sakit.. sakit...sakit...
Kayu itu lepas dari genggamannya

Dia telah mati.
Tragis

Bayangan hitam itu pergi
Kayu itu turut dibawanya
Yang tersisa hanya tubuh yang terbujur kaku
Dengan darah membasahi seluruhnya

Dia telah mati.
Tragis


-Debrina-

Minggu, 29 Juni 2014

Hanya Tuhan yang tahu

Akan lebih baik jika seperti ini, tanpa pertemuan tanpa keinginan untuk bersama. Aku tak menyalahkan waktu yang dengan sengaja membuat kita saling terhubung. Dan sebisa mungkin aku tak akan kecewa pada kenyataan  yang membuat kita menyerah lebih awal sebelum mencobanya.

Aku kira dirimu akan baik-baik saja di sana, kehidupanmu, cita-citamu semua harapan dan rencana masa depanmu tentunya akan membawa kebanggaan tersendiri bagimu. Kau bilang padaku bukan jarak yang akan menyakiti kita melainkan sang waktu. Aku merenungkannya.

15.493 Km susunan angka yang pada kenyataannya memisahkan kita,
Dan waktu yang tak kunjung memberikan kepastian kapan akan terjadinya pertemuan
tentunya semakin menyiksa sanubari

Bahwa saat ini terlampau rumit untuk kita berusaha, atau karena kau sendiri yang membuatku menyerah 
Entahlah, aku tak tahu (dan tak mau tahu).

Deburan ombak bagai menerjang hatiku, terkadang tak mampu menahan betapa kecewanya aku. Tapi selalu ku ingat bahwa memaksakan keadaan akan jauh lebih buruk lagi.

Jadi, aku di sini dan kau di sana. Entah dalam hati masih berharap akan terjadinya suatu pertemuan, bijaklah kita supaya menyimpannya rapat-rapat.

Seperti yang kau katakan, " Hanya Tuhan yang tahu, kapan sang waktu akan berpihak pada kita "

Karena sang waktu akan dengan senang hati mempermainkan kita untuk menunggu.











sumber

-Debrina-









Kamis, 02 Januari 2014

1 Hari Mencintaimu (kembali)

Malang masih ramah menyapaku tak ada perubahan yang berarti meskipun pada kenyataannya banyak yang mengeluhkan Malang tak senyaman dulu lagi. Tapi, bagiku itu tak menjadi persoalan. Banyak alasan yang membuatku selalu ingin kembali ke kota ini, bukan hanya karena beragam kuliner dan tempat tujuan wisata yang jadi pesona tapi ada hal yang bersifat pribadi bernama kenangan yang membuatku selalu rindu pada Malang.

Aku memperhatikan anak perempuan kecil yang berlarian di depanku, ia tampak begitu lincah dan bahagia di dekatnya berdiri kedua orang tuanya mengawasi sambil sesekali berseru "Awas jatuh,perhatikan langkahmu" atau "Jangan berlarian terus nanti kamu capek". Namanya juga bocah jiwa bebasnya tak akan menghalanginya berhenti berlarian. Ah, andai aku sebebas itu bisa sejenak melupakan kepenatan akan tanggungjawab pada pekerjaan. Sore hari ini bukan tanpa alasan aku duduk manis di bangku taman alun-alun kota Malang, aku menunggu seseorang yang sebentar lagi akan datang. Aku merasa aneh ketika menyadari aku mulai gugup, sesekali aku memperhatikan wajahku dari cermin kecil yang selalu ku bawa kemanapun aku pergi. Aku tidak ingin polesan manis diwajahku ini luntur sebelum ia melihatnya.

Kamis, 12 September 2013

Kepada yang tersayang

Halo sayang,
Ini malam ke 275  sejak terakhir kali kamu mengatakan ingin menikmati sinar rembulan dari balkon kamarmu.
Lihatlah keluar malam ini bulan bercahaya penuh, dengan hiasan bintang-bintang disekitarnya bagai permata berserakan di angkasa.
Aku yakin kamu melewatkan malam ini, kamu pasti telah terlelap jauh dibawah kendali mimpimu.
Tak apalah, setidaknya aku sudah mewakilkan dirimu saat menikmati keelokan rembulan itu.

Sayang,
Apakah kamu tahu sudah sejak lama aku menunggu?
Menunggu kesempatan untuk jujur kepadamu
Aku tahu ini akan menjadi sulit untuk kita lalui tapi apa daya aku harus mengatakannya.
275 hari yang berlalu begitu cepat, dan secepat itu pula aku menghilang dari kehidupanmu
Sayangku, sungguh ini bukan inginku.
Sebut saja aku lelaki pengecut yang tak memiliki keberanian untuk memperjuangkan impian kita.

Aku tahu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab
Aku tahu hatimu perlahan mulai rapuh dan tersakiti
Sungguh,sedikitpun aku tak berniat mengacaukannya

Ku pandangi bulan, ia tersenyum padaku
Ku pejamkan mata mencoba merasakan kehadiranmu malam ini
Ah, aku tahu kau pasti tengah tertidur pulas
Aku pecundang, tak ingin kehilanganmu tapi aku harus melepaskanmu
Mengubur segala impian, mematahkan janji-janji yang sempat terucap

Sayangku,
Percayalah kesakitanmu akan segera berakhir
Luka itu perlahan akan sembuh
Dan kau mungkin tanpa banyak alasan akan cepat melupakanku

Untukmu sayang,
Biarlah aku saja yang menderita
Merelakan luka batin menyiksa setiap kali ku ingat betapa bodohnya aku melepasmu. Hal yang paling tak ingin aku lakukan

Setiap bulan bersinar dengan terangnya,
Aku selalu mengenangmu.
Berbahagialah sayang
Meski tanpa diriku

-seorang pecundang yang mencintaimu-



Selasa, 10 September 2013

Jangan pernah diam lagi

Kita masih terdiam masing-masing asyik dengan pikiran yang memenuhi otak. Entah sampai kapan aku harus menerka tentang segala baris-baris pertanyaan yang tersusun rapi pada imaji ku. Aku tak tahu.

Mengharapkan sebuah jawaban supaya gundah gulana ini mencair, menyusut dan tak tampak lagi pada setiap hariku. Tapi kamu masih menyimpannya, kamu bagaikan membentengi diri dengan tembok gengsi. Aku ingin berteriak di depan wajahmu tapi aku tak mampu.

Malam semakin larut, ku putuskan saja untuk kembali pulang, tak ada tujuan terus  berdiam di ruangan ini sedang kamu asyik bermain dengan anjing puddlemu itu. Kamu bisa begitu hangat padanya namun padaku kamu terlalu tak mau tahu.

Ada hal-hal yang tidak kamu sadari, tahukah kamu ada seseorang yang setiap malam mengkhawatirkan dirimu? gelisah setiap melihat jam dinding, membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi setiap cuaca buruk mengiringi hari. Yang dipikirannya hanya KAMU.

Ku ambil tas selempangku disisi kananmu dan bersiap pulang sampai pada akhirnya kamu bicara..
"sudah mau pulang?" 

Aku hanya mengangguk, sepertinya aku tak perlu menjelaskan dengan kalimat untuk menjawab pertanyaanmu. Apa pentingnya bagimu.

Aku berjalan menuju pintu dan sengaja aku tak menoleh padamu, anjing puddle mu jauh lebih menarik ketimbang diriku. Ku percepat langkah kaki ku, berharap semain cepat pula harapan ini hilang.

Angin di bulan Agustus selalu sama setiap tahunnya, bertiup dengan kencangnya membuat tatanan rambutku jadi berantakan. Kekacauan pada rambutku adalah gambaran betapa kalutnya hatiku, memendam segala rasa yang ada untuk dirimu. Aku tidak menyebut diriku berlebihan menanggapi sikapmu. Aku tahu kamu menyimpan perasaan yang sama, hanya kamu terlanjur berdiri dibongkahan gengsi sehingga tentu hal yang sukar untuk mengakuinya.

Sebenarnya aku ingin menyerah saja, segala kedekatan ini anggap  seperti ikatan saudara jadi aku tak perlu merasa tersakiti atau terabaikan. Semua hal yang pernah kita lewati bersama akan aku kenang sendiri. 

Mungkin kehadiranku dalam hidupmu hanya sebagai pelengkap semata, bukan hal penting untuk dapat perlakuan istimewa. Satu-satunya keistimewaan yang kamu berikan padaku ketika kita berdua menikmati nasi goreng dipinggir jalan setelah kita kelelahan membersihkan kandang puddle kesayanganmu.

Aku pergi saja,
lebih baik begitu

tiba-tiba..

"Terima kasih ya,selalu ada untukku. Aku berjanji bahwa aku pun akan selalu ada untukmu. Jangan pernah pulang sendiri apalagi malam di bulan ini,rambutmu jadi berantakan. Ada aku selalu dan selamanya"

Tubuhku lemas,mencoba merasakan setiap kehangatan yang pelan-pelan merasuki tubuhku. Aku tak percaya kamu memelukku. Jadi  tembok gengsi itu sudah runtuh dan malam ini serpihan-serpihan asaku kembali ku susun kali ini bersamamu.
Jangan pernah diam lagi, kalau kamu ulangi maka aku akan benar-benar pergi.

Sabtu, 18 Agustus 2012

Bukan sembarang ABG SMA

#cerita 1

Dua keranjang dari rotan penuh berisi dengan telur asin dibawa di kedua tangannya. Ia berjalan dengan semangat menuju toko kelontong dekat rumahnya, menghantarkan telur-telur asin itu kepada pemilik toko. Namanya Eko, umurnya genap 20 tahun tapi Ia masih berseragam putih abu-abu. Kalau berpikir bahwa ia bodoh tentu salah besar, bukan karena tingkat intelektualitas yang rendah yang membuat Eko masih menjadi bagian dari ABG SMA tapi karena kendala biaya untuk sekolah yang tidak ada saat itu. Eko berasal dari keluarga tidak mampu, bapaknya seorang kuli panggul di pasar dan ibunya tidak bekerja. Dengan keadaan yang serba kekurangan setelah lulus SMP Eko mengurungkan niatnya untuk melanjutkan sekolah. Ia memilih bekerja serabutan demi membantu perekonomian keluarganya, pekerjaan seperti mengamen, menjual koran, tukang parkir pernah ia jalani. Sampai suatu hari ia bertemu dengan seseorang yang mengubah kehidupan Eko. Ketika Eko sedang bekerja sebagai tukang parkir di sebuah toko buah, tiba-tiba ada anak kecil yang berlari dari dalam toko ke luar sampai menuju jalan raya. Larinya sangat cepat dan saat itu dari arah kanan ada pengendara motor yang melaju dengan kencangnya, Eko yang melihat kejadian itu dengan sigap menyelamatkannya. Hampir saja anak itu tertabrak, keluarganya berteriak histeris sambil berlari dan langsung memeluknya. Eko merasa lega bisa menyelematkan anak itu. Tak disangka, perbuatan baik Eko membawa berkah tersendiri baginya. Sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan anaknya, Pak Gunawan berjanji untuk menjadikan Eko sebagai anak asuhnya, agar ia bisa melanjutkan sekolah lagi. Sejak itu, Eko kembali bersekolah ia juga diberi modal oleh Pak Gunawan untuk mulai berwirausaha menjadi penjual telur asin. Eko tidak pernah menyangka bahwa ia bisa kembali bersekolah, kini di depannya terhampar jelas jalan untuk meraih cita-citanya sebagai Pilot. Ekonomi keluarganya juga mulai terbantu dari keuntungannya menjual telur asin. dari Eko kita bisa belajar bahwa dalam kondisi kekurangan sekalipun kita tidak boleh putus asa, selalu ada jalan untuk orang yang mau berusaha. Eko menunjukkan dirinya sebagai ABG SMA yang mandiri, giat dan pantang menyerah.


Rabu, 27 Juni 2012

Selamat (....) Aku mencintaimu

Selamat pagi,
Aku tahu pasti kamu masih terlelap, jauh tak terlihat di dalam selimut. Dinginnya udara membuatmu malas untuk beranjak dari kasur. Ragu untuk membangunkanmu yang masih nyenyak terbuai malam padahal si fajar sudah datang. Terselip tanya dibenakku, akankah aku yang dibawa oleh bunga tidur dan berdiam di alam mimpimu? 
Buka matamu, segera! Lihatlah banyak hal menantimu setiap pagi, khususnya aku yang merindukan sapaan manjamu dan membuatku lebih berhasrat menjalani hari.

Selamat siang,
Kamu sibuk begitu pula aku. Kita berbeda. Aku wanita dan kamu pria itu perbedaan paling mendasar. Aku disini dan kamu jauh beratus-ratus kilometer di sana. Aku cerewet dan menjunjung tinggi "ikatan" tapi kamu cuek dan bebas. Aku manja dan kamu temperamental. Tapi, ada kesamaan yang saling menguatkan aku dan kamu saling mencinta. Terima kasih! Jangan lupa makan siang :)

Selamat sore,
Senja di sini begitu menggoda, akan sangat menyesal jika aku melewatkannya. Kehadiran senja yang singkat sama seperti kehadiranmu di sini yang tak bisa berlama-lama. Lagi-lagi karena kesibukan kita yang berbeda, aku hanya bisa menghela napas panjang berharap kebersamaan yang kita rindukan akan segera terwujud. Aku percaya ketika hari itu datang hanya ada rasa syukur yang akan aku panjatkan.

Selamat malam,
Aku sudah tidak tahan lagi, aku merindukanmu!!!! Rindu yang begitu menyiksa, terkadang aku marah pada kenyataan betapa sulitnya menjadi mereka? Pasangan yang dengan mudahnya memadu kasih tanpa harus dibatasi jarak. Melihat keadaan ini tidak mudah untukku dan untukmu, tapi aku tahu Tuhan tidak pernah tidur, dia dengan segala kuasaNya akan memberikan jalan yang paling sesuai bagi kita. Yang kita perlukan hanyalah kekuatan sebagai dasar komitmen yang sudah terucap. Buang jauh-jauh pikiran yang dapat membelokkan perasaan yang sudah terbina. Syukuri apa yang  sudah kita miliki, ingat bahwa kita bisa kuat mengarungi jutaan jarak karena satu hal : CINTA. Aku mencintaimu, aku merindukanmu dan dalam setiap doa malamku tak pernah luput ku sebutkan namamu, agar Sang Maha Kuasa melindungimu terlebih menjaga kesetiaan kita berdua.
Aku tak mampu berkata-kata lebih banyak lagi hanya sebuah ucapan TERIMA KASIH. Sebagai apresiasi dari cinta yang sudah tumbuh dan menemani hari-hari kita berdua. Selamat malam :)



Untuk: Seseorang yang sedang menyelesaikan studinya di Bandung. Aku mencintaimu, Sungguh!

"Aku mengucap syukur pada Allahku, setiap kali ku mengingatmu" (Filipi 1:3)


Rabu, 20 Juni 2012

Cantik,Kumbang,Senja dan Padang Ilalang

Tak banyak yang bisa ku lakukan ketika segala amarah menguap tak mampu dibendung lagi. Hatiku hanya satu, tidak cukup besar untuk menampung semua kesakitan itu. Pernah kah kamu berpikir lelucon seperti itu cukup menorehkan luka batin? Sungguh,jangan lagi membandingkanku. Berkali aku mengatakan agar kamu mau menghentikan, tapi suaraku pun tak sampai di telingamu. Kamu sengaja menutupnya, dan selalu mengulanginya. Aku sakit.

Tapi aku mencintaimu,

Kamu bilang aku masa depanmu, kamu bilang terlalu lelah untuk mencari penggantiku. Untuk itu kah kamu memilih bertahan bersamaku? Saat sore kita berdua menikmati senja di padang ilalang, kamu sibuk dengan kameramu mengambil gambar kesana kesini. Kamu tak ingin melewatkan setiap moment berarti di sore itu, kamu harus mengabadikannya. Aku tertawa saat kamu diam-diam mengambil pose seksi kumbang yang tengah terbang merendah di sekitaran ilalang. Badanmu turut merendah tanpa kamu perhatikan kakimu salah melangkah, kamu terjerembab dan kumbang itu terbang meninggi. Kamu marah dan memaki diri sendiri. Dari sini aku terbahak, kamu melangkah ke arahku lalu kita duduk bersebelahan. Kamu masih sibuk dengan kameramu, tapi tak pernah sekalipun kamu mengarahkan lensanya kepadaku. Aku memang bukan gadis-gadis plastik, wajahku tak seelok mereka, tubuhku tak sekurus itu. Aku hanyalah diriku, gadis biasa yang selalu bahagia kala kamu bermanja disampingku, aku hanya gadis biasa yang selalu menyambutmu dengan pelukan hangat ketika kamu datang, aku hanya gadis biasa yang berjam-jam memikirkanmu, aku hanya gadis biasa yang betah berlama-lama mendengarkan semua ceritamu. Aku hanya gadis biasa yang mencintaimu.

Aku iri pada gadis-gadis plastik itu, yang bisa dengan mudahnya mendapatkan posisi sempurna di matamu, di kameramu. Salahkah perasaanku? Aku tidak cantik, begitu pula aku tidak sempurna. Kamu juga tidak sempurna.

Kamu selalu mengatakan bahwa Marissa cantik atau Deara dengan mata ekspresifnya membuatmu terpesona. Kamu selalu berkata Angie punya rambut hitam panjang yang lebat. Apakah kamu menyesal memiliki ku yang tidak sempurna seperti mereka? Aku beradu dengan batin, berusaha meyakinkan diri bahwa aku cantik setidaknya itu kata ibuku. Aku pernah sekali begitu membenci cermin, bagiku cermin hanya menggambarkan pesona keindahan semu. Ada yang lebih penting selain fisik sempurna, yaitu hati. Cermin tak mampu memantulkan isi hatiku. 

Aku berusaha, bukan dengan cara instant agar bisa sempurna. Aku tidak ingin mengubah diriku menjadi orang lain, aku ingin tetap menjadi aku yang biasa saja tapi bisa kamu banggakan diantara teman-temanmu, diantara gadis-gadis plastik itu.

Lihatlah, aku berubah sayang. Kini dipipiku ada warna merah merona hasil eksperimenku di kamar ibu. Warna peach memenuhi bibirku, kamu pasti ingin menciumnya. Hahaha. Aku wangi, selalu wangi seperti biasanya. Rambut ku biarkan jatuh terurai, agar kamu tahu Angie tidak sebanding denganku. Memakai little black dress dan heels berwarna merah yang seragam dengan kuku kaki dan tangan ku yang telah dipoles.

Aku ingin kamu melihatku, seutuhnya. Luar dan dalam.

Jangan lagi kamu membandingkanku dengan mereka, karena aku sangat CEMBURU!

Kamu terpana melihatku, bola matamu mengikuti gerak langkahku. Aku tidak banyak berubah, aku hanya sedikit bersolek. Agar kamu tahu, pacarmu ini CANTIK. 

Aku masih gadis biasa yang mencintaimu utuh.

Kita kembali menikmati senja di padang ilalang, kamu terus menatapku. Dan untuk pertama kalinya, kamu mengarahkan kameramu kepadaku.
Ada rasa puas dihati, 

Tiba-tiba, ada seekor kumbang terbang mendekatiku. Ia berdiam di tanganku, kamu beranjak berdiri dengan cekatan kamu mengabadikan momen itu.

"Kamu cantik" katamu
"Terima kasih mas" jawabku pelan sambil terus menatap senja
"Maafkan aku dek"
"Maaf untuk apa?"tanyaku sambil memperhatikan wajahmu
"Maaf aku yang tidak pernah bisa melihat dirimu secara utuh, maaf aku yang selalu membuatmu cemburu, maaf karena aku begitu bodoh"
"Ya, kita terkadang harus menjadi bodoh untuk dapat memaknai dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki, Mas"


Aku baru menyadari gadis-gadis plastik itu memang merebut perhatianmu lewat kemolekan semunya, tapi hati dan cinta yang kamu miliki seutuhnya hanya untukku.

Aku mungkin saja akan terus cemburu, karena kamu dikelilingi pesolek ulung. Tapi disaksikan senja dan kumbang sore ini, aku tahu kamu terlalu bodoh untuk meninggalkanku yang memiliki kecantikan utuh, luar dan dalam.

Aku mencintaimu Mas, dengan apa adanya diriku. Ku harap kamu tahu dan mensyukurinya.

Selasa, 08 Mei 2012

Untuk Bagas

Hai Bagas,

apa kabarmu? aku sebenarnya tak perlu menanyakan itu. Dan sebenarnya aku bisa melihatmu dengan jelas. Kamu tampak sehat, bahkan terlihat lebih kuat. Aku senang mengetahui kamu baik-baik saja.

Hari ini kamu sempurna dengan kemeja warna baby blue itu, tatanan rambutmu yang lebih rapi dari biasanya, wangi parfum yang menempel (bahkan aku bisa menciumnya dari sini) dan yang paling hebat adalah senyummu. Ya senyummu yang membuatmu makin berwibawa. sungguh aku merindukanmu.


Bagas,
aku senang melihatmu seperti ini, kamu pada akhirnya bisa memilih. Lihat, memilih itu bukan hal yang sulit kan? 


Bagas,
kamu masih memikirkanku? aku baik-baik saja, ehm sangat baik malah. Kamu sekarang sudah mulai berpikir ini jalan terbaik untuk kita berdua. Aku bangga padamu, karena tidak mudah memang untuk berbesar hati.


sebenarnya malam itu, aku ingin mengatakan padamu. Hal yang seharusnya aku katakan dari dulu. tapi, apa daya ternyata sesuatu itu tidak tersampaikan. aku menyesalinya. aku terlanjur pergi, dan kamu pasti tahu kan aku tidak akan bisa kembali. Maaf, aku menjadi bodoh, selama ini aku sibuk dengan sketchbook-ku. aku bahkan tidak menggubris semua rasa yang kamu miliki. Maaf, aku egois. saat aku berada dalam kondisi terburuk pun aku tak bicara padamu.


Hingga malam itu datang, aku membujur kaku, badanku sekujur membiru, tak ada suara yang keluar dari mulutku. aku bahkan tak lagi mendengar suara-suara disekitarku. perlahan aku merasakan sukmaku keluar dari tubuh ringkihku. lalu aku memandangi diriku yang merana di atas kasur itu.


Ya, aku mati. di malam itu, padahal saat sore hari aku menghabiskan waktu bersamamu dan mendengarkan pengakuanmu, bahwa kamu mencintaiku.


Bagas,
aku tidak bisa melawan takdir, penyakit yang sudah bersarang di tubuhku sejak aku remaja, ahli medis menyebutnya Lupus. kekebalan tubuh yang malah menjadi bumerang untukku. asal kamu tahu, aku tidak pernah meminta berada dikondisi seperti ini. 


Aku menyakitimu, maafkan aku.


tidak ada yang bisa kuberikan padamu, bahkan disaat terakhir kehidupanku. aku hanya tidak ingin membuatmu menggantungkan asa terlalu tinggi, karena aku tidak mampu mendampingimu. aku tidak lagi bisa menemanimu berada di jalan setapak, duduk di bangku taman dan menikmati suasana sore, sambil mendengarkan kicauan burung gereja. 
aku tidak lagi bisa menemanimu menikmati kopi, seperti yang sering kita lakukan. aku masih ingat, kamu selalu berada disampingku. Aku menggambar di sketchbook, dan kamu bercerita banyak hal sambil meminum kopi. 


maafkan aku




Bagas,
terima kasih ya untuk segalanya, aku senang bisa mengenalmu. aku bangga pernah menjadi bagian dalam hidupmu. aku bersyukur karena kamu selalu menemaniku hingga ajal datang dan membawaku pergi. terima kasih kini kamu sudah kuat, lebih dari yang aku bayangkan.


cobalah untuk membuka hati, aku lihat ada seseorang yang akan menyayangimu dengan tulus. percaya padaku!


kini saatnya, aku mengakui "AKU MENCINTAIMU, BAGAS"
maaf untuk segala perasaan yang tak tersampaikan.


-Nara-






1. flash fiction untuk suatu project bareng Mamon.
2. Lihat juga "Buat Audrey" disini
3. saat menulis ini sambil mendengarkan Kiss The Rain by Yiruma, dapat banget soulnya ;)