Minggu, 05 Juli 2015

Selamat pagi, Rimba

Pukul 05.00 pagi

Kepada Rimba,

Hai, selamat pagi - secangkir teh tawar hangat telah ku siapkan untukmu. Aku memandangimu, awalnya ingin membangunkanmu dari buaian mimpi, namun aku tak tega mengingat semalam kau kehujanan dalam perjalanan pulang dari kantor. Jadi ku putuskan memberi 30 menit lagi waktu yang tersisa untukmu menikmati nyamannya ranjang kita. Ranjang yang kau beli di tahun ketiga pernikahan kita sebagai ganti dari ranjang warisan dari ayahmu yang telah lapuk dimakan usia. 

Rabu di minggu depan adalah tepat tahun ke- 5 usia pernikahan kita. Aku bukanlah orang yang romantis dan kau pun begitu, aku tidak mengharapkan makan malam spesial di restoran mahal dan diiringi alunan merdu dawai biola. Aku mensyukuri setiap detik yang kita lewati bersama, aku teguh pada janji yang saling kita ucapkan saat pernikahan kita. Perayaan kecil di rumah - dengan kembali menonton akting Anne Hathaway dan Jim Strugess di film One Day, lalu kamu akan memelukku ketika aku mulai meneteskan air mata hingga film itu berakhir. Ah, kau tentunya sudah hafal betul aku terlalu mudah menangis. 

Rimba, ada sekelumit maaf yang ingin ku ucapkan. Tidak, bukan maksudku menjadi lemah di hadapanmu. Namun, aku tidak biasa untuk menyimpannya sendiri. Kau pasti tahu permintaan maaf yang selalu ku ulang setiap tahunnya. Permintaan maaf yang terucap bukan karena kesalahan tapi lebih kepada ketidakmampuanku menjadi istri yang sempurna untukmu.


Kau mungkin jengah dengan semua ini. Dan aku takut kalau suatu hari kau telah sampai pada puncak kekecewaanmu. Aku tidak bisa menekan segala imajinasi yang memenuhi otakku, dan mengubahku menjadi seseorang yang dipenuhi oleh perasaan khawatir, cemas dan curiga.

Aku minta maaf. Aku tidak pernah meragukan kesetiaanmu, hanya saja jika aku bercermin dan tampak bayangan diriku di sana. Aku merasa tidak layak menjadi istri yang selalu kau banggakan di depan keluarga besarmu. Aku masih ingat dengan jelas beberapa tahun yang lalu saat kau memperjuangkan cinta kita dihadapan kedua orang tuamu dan orang tuaku. Betapa kau bersungguh-sungguh ingin menjadikanku pendamping disepanjang hidupmu. Aku akan selalu ingat kesungguhanmu mencintaiku.

Maafkan aku Rimba, hingga lima tahun kita bersama aku tak kunjung mengandung. Aku tahu, kau merindukan kehadiran bayi mungil ditengah keluarga kita. Sudah berapa ratus pertanyaan yang terucap dari ayah dan ibuku, mami dan papi mu, bahkan kolegamu yang bertanya kapan kita akan memiliki momongan. Tahukah kau Rimba, betapa aku lelah mendengar pertanyaan semacam itu. Aku sebagai wanita dan juga sebagai istrimu seringkali merasa gagal. Apalah dayaku Rimba? Aku pun menginginkan kehadiran buah hati ditengah keluarga kita. Lantas apa yang harus ku lakukan jika sampai hari ini tak kunjung hadir nyawa baru dalam rahimku?

Rimba, siapakah yang pantas disalahkan? Apakah begitu menyedihkan jika kita tidak segera memiliki anak? Apakah kebahagiaan kehidupan berumah tangga diukur dari kehadiran seorang anak? Rimba, aku rasa ini adalah sebuah pemahaman yang salah. Pemahaman yang turun temurun ada dan dapat menjadi kesakitan nomor 1 pada keluarga-keluarga yang belum dikaruniai anak, khususnya pada keluarga kita. Rimba,

Rimba, aku sangat bahagia telah kau pilih dan kau percayakan untuk mendampingimu. Bagaimana pahitnya hidup selalu mampu kau ubah dengan sikap optimismu. Rimba, aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku. Aku percaya kita akan selalu bahagia apapun yang terjadi nantinya.

Rimba, kaulah berkat terbesar yang telah Tuhan berikan dalam hidupku. Dengan keterbatasanku saat ini kau begitu setia selalu bersamaku. Aku tahu Rimba, kau bersungguh-sungguh mengucapkan ikrar pernikahan kita. 

Terima kasih Rimba, telah menjadi suami terhebat untukku.

Marilah kita terus percaya, bahwa mujizat Tuhan akan bekerja.

Karena seperti yang selalu kau katakan padaku, "Akan ada pelangi sehabis hujan"

Aku mencintaimu, 

Selamat Pagi Rimba.

With Love,
Embun

7 komentar:

  1. Wooowooooowooooooooooo cerpen nya luar biasa 'mbak' hahaha. Pertamax gan :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. mulai beralih nyu coba2 bikin cerpen "dewasa"

      Hapus
  2. Seddaaappp.. welcome bag kadeb :))

    BalasHapus
  3. Ini cerita orang mandul ya mbak deb? Belum rejeki mungkin

    BalasHapus
  4. iya anak kan juga rejeki yaa Dir

    BalasHapus
  5. kak deb suka nulis puisi sama flash fiction jugaaak?

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan sertakan komentarmu disini Dear. :)